Logo Ubuntu berwarna oranye di latar ungu dengan tulisan besar “Ubuntu 25.10 Review”

Ubuntu 25.10 Review: Masih Layak Dipakai Sebelum LTS 26.04

Ubuntu sering jadi bahan candaan di komunitas Linux: “distro untuk pemula”, “terlalu bloat”, atau “langkah awal sebelum pindah ke Arch”. Tapi di balik semua itu, Ubuntu tetap salah satu distribusi paling berpengaruh dan stabil di dunia Linux. Dan kini, versi Ubuntu 25.10 “The Questing Quokka” resmi hadir — menjadi edisi terakhir sebelum rilis LTS 26.04 tahun depan. Mari kita review Ubuntu 25.10

Seperti biasa, versi non-LTS ini bukan sekadar pembaruan kecil. Canonical menjadikannya ajang uji coba untuk berbagai fitur besar yang akan dibawa ke versi jangka panjang berikutnya.

Wayland Saja, Selamat Tinggal X11

Wayland logo by Wayland

Perubahan paling besar dan kontroversial datang dari sisi tampilan. Ubuntu 25.10 kini sepenuhnya beralih ke Wayland untuk sesi GNOME. Tidak ada lagi opsi login ke X11, dan Canonical mengikuti arah pengembangan GNOME yang memang berencana menghapus X11 sepenuhnya di versi 50 nanti.

Bagi pengguna biasa, perubahan ini mungkin tak terasa. Tapi bagi mereka yang bergantung pada aplikasi atau workflow tertentu berbasis X11, ini bisa jadi awal dari masa adaptasi baru.

Sentuhan Baru di Tema Yaru

Encryption option ubuntu 25.10

Ubuntu 25.10 masih mempertahankan identitas oranye khasnya, tapi tema Yaru kali ini mendapat penyegaran halus. Ikon-ikon seperti Trash, System Monitor, Firmware Updater, dan Terminal mendapat desain baru.

Secara visual, tampilannya lebih tajam dan konsisten. Bahkan, jika kamu menggunakan mode dock (bukan panel), radius sudut kini disesuaikan agar serasi dengan menu konteks GNOME. Detail kecil, tapi membuat pengalaman desktop terasa lebih rapi.

Aplikasi Bawaan yang Dirombak

Ubuntu kini menggunakan Loop sebagai penampil gambar default — langkah yang mengikuti GNOME. Aplikasi ini mendukung gestur multi-touch dan pengeditan ringan seperti crop, rotasi, dan flip.

Terminal lama juga diganti oleh Tixis (atau Pixis), terminal baru dengan antarmuka bersih dan fitur lengkap seperti profil warna, pengaturan font, serta tab yang rapi.

Namun, satu fitur yang hilang dan cukup disayangkan: Startup Applications. Alat untuk mengatur aplikasi yang otomatis berjalan saat boot kini ditiadakan, diganti dengan pengaturan per-aplikasi. Sayangnya, ini berarti kamu tak bisa lagi melihat daftar global atau menambahkan skrip startup custom lewat GUI — sebuah kemunduran kecil yang bisa mengganggu pengguna power user.

Perubahan di Balik Layar

Ubuntu 25.10 melakukan eksperimen besar di level sistem: GNU Core Utils kini diganti dengan versi berbasis Rust. Semua perintah seperti ls, mv, cp, dan sort masih sama, tapi di balik layar, kode dasarnya sudah modern dan lebih aman.

Namun, karena ini perubahan besar, Canonical mengujinya di versi 25.10 sebelum benar-benar dipakai di Ubuntu 26.04 LTS nanti.

Selain itu, initramfs-tools kini digantikan oleh Dracut, seperti yang digunakan Fedora. Lalu Chrony menggantikan NTP lama untuk sinkronisasi waktu.

Dan untuk kamu yang peduli privasi: sistem telemetri Ubuntu kini menggunakan alat baru bernama ubuntu-insights. Masih bisa dimatikan sepenuhnya, meski sayangnya opsi ini tetap aktif secara default.

GNOME 49: Lebih Halus dan Canggih

Ubuntu 25.10 membawa GNOME 49, dan dengan itu datang banyak peningkatan menarik:

  • Do Not Disturb kini tersedia langsung di menu cepat.
  • Brightness control per monitor termasuk dukungan HDR.
  • Accessibility button di login screen untuk pembaca layar dan high contrast mode.
  • Nautilus kini punya pencarian dengan tag dan kalender, serta shortcut baru (Ctrl+.) untuk langsung membuka terminal di direktori aktif.

Sayangnya, Ubuntu lagi-lagi aneh soal versi aplikasi. Mereka tetap menahan GNOME Calendar di versi 48, padahal versi 49 membawa peningkatan besar di aksesibilitas. Keputusan ini terasa janggal dan tidak konsisten.

Ubuntu 25.10 Review: Stabil tapi Eksperimental

Ubuntu 25.10 memang bukan versi revolusioner, tapi lebih seperti laboratorium bagi 26.04 nanti. Ada banyak langkah maju seperti transisi penuh ke Wayland dan Rust core utils, namun juga beberapa keputusan yang bisa membuat sebagian pengguna garuk kepala.

Kalau kamu penggemar Ubuntu dan ingin mencicipi inovasi lebih awal, Ubuntu 25.10 layak dicoba. Tapi kalau kamu lebih suka stabilitas tanpa risiko bug eksperimental, mungkin lebih baik tunggu LTS 26.04 tahun depan.

Kesimpulan

Ubuntu 25.10 adalah versi penuh eksperimen yang menunjukkan arah masa depan Canonical: aman, modern, dan lebih rapi dari sisi desain. Tapi tentu saja, tidak semua pengguna akan suka dengan perubahan radikal seperti Wayland-only atau penghapusan tool startup.

Secara keseluruhan, Ubuntu 25.10 review ini menunjukkan distro yang matang tapi berani mengambil risiko.

Similar Posts