kenapa gnome jadi default di banyak distro Linux

Kenapa GNOME Jadi Default di Banyak Distro Linux, Bukan KDE?

Di dunia Linux, ada dua lingkungan desktop yang paling banyak digunakan: GNOME dan KDE Plasma. KDE terkenal dengan fleksibilitas serta fitur yang melimpah, sementara GNOME lebih sederhana, konsisten, dan dianggap ramah pengguna. Meski KDE sangat populer dan bahkan menjadi pilihan utama di beberapa distro besar seperti Manjaro, sebagian besar distribusi ternama—termasuk Ubuntu dan Fedora—lebih memilih GNOME sebagai default.

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ada perjalanan panjang, termasuk sejarah lisensi, pilihan strategis perusahaan besar, dan reputasi komunitas yang membentuk persepsi pengguna hingga hari ini.

Awal Mula: KDE Lebih Dulu Hadir

KDE sebenarnya muncul lebih awal, sekitar tahun 1996, tiga tahun sebelum GNOME diluncurkan. Sejak awal, KDE sudah tampil dengan antarmuka grafis yang modern untuk masanya. Namun, proyek ini dibangun di atas Qt, sebuah toolkit yang saat itu dilisensikan dengan cara yang tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip perangkat lunak bebas.

Lisensi Qt Free Edition membuat banyak orang ragu, karena tidak kompatibel dengan GPL dan menimbulkan kekhawatiran bahwa KDE suatu hari bisa berubah menjadi perangkat lunak tertutup. Ketidakpastian inilah yang kemudian mendorong lahirnya GNOME pada tahun 1999, menggunakan GTK yang sejak awal memiliki lisensi lebih bebas dan sesuai dengan visi Free Software Foundation (FSF).

Kontroversi Lisensi Qt

Ketakutan bahwa Qt bisa menjadi proyek komersial sepenuhnya membuat komunitas mencari jalan keluar. Trolltech, perusahaan pengembang Qt, akhirnya membentuk KDE Free Qt Foundation sebagai jaminan bahwa Qt untuk Linux akan selalu tersedia bebas jika perusahaan gulung tikar atau diakuisisi.

Meski kemudian masalah lisensi ini teratasi—Qt 2.2 hadir dengan lisensi GPL pada tahun 2000, dan Qt 4.5 berlisensi LGPL setelah Nokia mengakuisisi Trolltech pada 2008—kerusakan citra sudah terlanjur terjadi. GNOME sudah terlanjur mendapat kepercayaan lebih luas dari komunitas, dan posisi KDE tidak lagi sekuat awal kemunculannya.

Ubuntu, Fedora, dan GNOME

Momentum terbesar datang ketika Ubuntu lahir pada tahun 2004. Canonical memutuskan menggunakan GNOME sebagai desktop default sejak rilis pertama, Ubuntu 4.10 “Warty Warthog.” Fokus Ubuntu pada kemudahan instalasi, dukungan driver, dan tampilan yang ramah pengguna membuatnya cepat menjadi distro paling populer di dunia. Dampaknya, wajah Linux di mata publik identik dengan kombinasi Ubuntu dan GNOME.

Di sisi lain, perusahaan besar seperti Red Hat juga memberi dukungan finansial dan tenaga pengembang untuk GNOME. Dukungan infrastruktur ini menjadi fondasi penting, karena tanpa sokongan dari Red Hat, kemungkinan GNOME tidak akan sebesar sekarang.

Luka Lama KDE

KDE sempat mengalami masa sulit pada 2008 dengan rilis KDE 4.0. Versi ini sebenarnya ditujukan sebagai platform awal bagi pengembang, tetapi banyak distribusi terburu-buru memasukkannya sebagai rilis stabil. Hasilnya fatal: fitur hilang, banyak bug, dan desktop sering mengalami crash.

Keputusan itu membuat banyak pengguna kecewa dan menempelkan stigma “KDE itu buggy” yang sampai sekarang masih sering terdengar, meskipun KDE Plasma modern sudah jauh lebih stabil dan efisien. Bahkan, muncul fork bernama Trinity Desktop untuk melanjutkan pengembangan KDE 3.5 yang dianggap lebih matang.

Kenapa GNOME Tetap Jadi Default?

Jika ditarik ke belakang, ada beberapa faktor yang membuat GNOME mendominasi. Masalah lisensi Qt di masa lalu telah mengurangi kepercayaan komunitas terhadap KDE. Di saat yang sama, Red Hat dan Canonical memilih untuk mengembangkan dan mendukung GNOME, sehingga pengaruhnya semakin besar. Popularitas Ubuntu di awal 2000-an juga memperkuat posisi GNOME sebagai “wajah” Linux bagi pengguna baru.

Kesalahan strategi KDE saat meluncurkan versi 4.0 semakin memperburuk reputasi mereka. Dan bagi distribusi besar, mengganti lingkungan desktop default bukanlah keputusan ringan, karena akan mengubah pengalaman pengguna secara drastis.

Penutup

KDE Plasma dan GNOME sama-sama lingkungan desktop yang hebat, hanya saja pendekatannya berbeda. KDE menonjolkan fleksibilitas dan kelengkapan fitur, sementara GNOME lebih memilih kesederhanaan dan konsistensi. Namun karena sejarah, dukungan perusahaan besar, dan momentum yang tepat, GNOME kini lebih banyak digunakan sebagai default di distro Linux arus utama.

Pada akhirnya, hal ini bukan tentang siapa yang lebih baik, melainkan tentang preferensi. Justru keberagaman inilah yang membuat Linux unik: setiap pengguna bebas memilih pengalaman desktop sesuai dengan kebutuhannya.

Similar Posts