Microsoft windows

Haruskah Kita Upgrade ke Windows 11? Risiko, Masalah, dan Alternatif

Share This Post

Akhir masa dukungan Windows 10 semakin dekat, lebih cepat dari yang banyak orang sadari. Pertanyaan besar pun muncul: apakah sebaiknya kita beralih ke Windows 11 sekarang, atau tetap bertahan di Windows 10?

Banyak pengguna masih ragu, bukan tanpa alasan. Sejumlah masalah dalam Windows 11 — termasuk pembaruan besar yang sempat merusak SSD — membuat sebagian orang memilih menunda.

Microsoft Account, Sinkronisasi, dan “Umpan” Tambahan

Salah satu alasan pengguna menahan diri adalah strategi Microsoft yang semakin gencar mendorong sinkronisasi data ke cloud.

  • Instalasi baru Windows 11 wajib menggunakan akun Microsoft.
  • Sistem default bahkan mendorong akun “tanpa password” berbasis cloud, yang belum sepenuhnya dipahami banyak pengguna.
  • Bagi mereka yang masih nyaman dengan akun lokal, hal ini terasa mengganggu.

Sebagai “umpan,” Microsoft menawarkan satu tahun tambahan dukungan gratis Windows 10 bila pengguna menyinkronkan setelan lewat akun Microsoft. Namun, tidak semua orang mau menyerahkan kontrol penuh ke cloud hanya demi tambahan setahun.

Masalah Performa dan Bug

Beberapa pengguna melaporkan performa Windows 11 lebih lambat dibanding Windows 10, terutama pada File Explorer. Walau ada juga yang merasa Windows 11 lebih cepat, ketidakstabilan dan bug membuat banyak orang enggan mengambil risiko.

Lebih parah lagi, sebuah pembaruan Windows 11 (KB5063878) dilaporkan dapat membuat SSD dan HDD rusak.

  • Masalah muncul ketika drive sudah terisi lebih dari 60% lalu digunakan untuk menulis data besar (lebih dari 50 GB).
  • Beberapa drive masih bisa pulih setelah reboot, tapi ada juga yang benar-benar tidak bisa digunakan kembali.
  • Produsen kontroler SSD seperti Phison sudah mengonfirmasi sedang menyelidiki masalah ini.

Jika bug kecil masih bisa ditoleransi, kerusakan storage jelas masalah serius.

Kontroversi Windows Recall

Selain itu, fitur baru bernama Windows Recall menimbulkan kekhawatiran privasi. Recall secara otomatis mengambil screenshot aktivitas pengguna untuk “memudahkan pencarian kembali.”

  • Uji coba menunjukkan Recall tetap bisa menangkap informasi sensitif (misalnya daftar akun dan password) jika tidak ditulis dengan format tertentu.
  • Walau beberapa aplikasi seperti Signal dan Brave sudah melindungi diri agar tidak bisa direkam Recall, kekhawatiran privasi tetap besar.

Fitur ini memang masih opsional dan terbatas pada perangkat tertentu, tetapi arah pengembangannya menunjukkan dorongan kuat Microsoft agar lebih banyak orang mengaktifkannya.

Alternatif: Beralih ke Linux

Dengan segala risiko itu, sebagian pengguna mulai melirik Linux sebagai alternatif. Ada banyak distribusi ramah pemula yang bisa dijadikan pilihan, di antaranya:

  • Linux Mint – sederhana, stabil, dan cocok untuk pengguna baru.
  • Zorin OS – tampilannya bisa diatur mirip Windows atau macOS.
  • MX Linux – berbasis Debian dengan banyak tool praktis bawaan.
  • Manjaro – berbasis Arch, tetapi lebih ramah pemula dengan tampilan modern.
  • Pop!_OS – unggul untuk gaming dan produktivitas, meski sedikit lebih teknis.

Linux bisa dicoba tanpa harus menghapus Windows, misalnya dengan menginstalnya di USB drive atau hard disk eksternal.

Kesimpulan

Windows 11 membawa sejumlah inovasi, tetapi juga menimbulkan banyak kekhawatiran: dari bug serius yang merusak SSD, kebijakan Microsoft Account, hingga fitur Recall yang rawan privasi.

Bagi pengguna yang mengutamakan stabilitas dan kontrol, bertahan di Windows 10 sampai masa dukungan benar-benar habis mungkin pilihan lebih aman. Sementara itu, mencoba Linux bisa menjadi langkah awal menuju sistem operasi yang lebih terbuka, bebas biaya, dan relatif aman dari bug berbahaya.

Similar Posts